Muhammad Subkhan (Aan)
Bekerja di Kementerian Agama
Laki-laki, 32 tahun

Cilacap, Indonesia

Kegagalan adalah awal dari suatu keberhasilan.
::
Start
Nayaka Marvellino Subkhan
Shutdown

Navbar3

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label kumpulan khubah Jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan khubah Jum'at. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Desember 2014

HARAMNYA QUIZ SMS DAN SMS RAMAL

KHUTBAH JUMAT “HARAMNYA QUIZ SMS DAN SMS RAMAL ” Oleh: Dalyana, S.Pd., M.Pd.

A. Pendahuluan:
Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Puji dan syukur, marilah kita panjatkan ke hadirat Alloh SWT, yang telah melimpahkan berbagai nikmat, taufiq dan hidayah kepada kita sekalian, sehingga saat ini kita masih dapat berkumpul dan menunaikan ibadah jumah di Masjid yang mulia ini. Sholawat dan salam, semoga tercurah ke haribaan Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mau mengikuti petunjuk beliau, hingga akhir jaman kelak.

B. Isi Khutbah
Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Sebagaimana kita maklum, bahwa akhir – akhir ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi amatlah pesat. Kemajuan itu tentu saja akan berdampak positif atau negatif, sangat tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Kita ambil salah satu contohnya adalah keberadaan HP (Hand phone). Dampak positif dari alat komunikasi HP ini tentulah sangat banyak, salah satunya adalah dapat memperlancar komunikasi.
Namun perlu pula kita sadari, adanya dampak negatif terhadap alat komunikasi HP ini. Mengingat keterbatasan waktu, hanya akan kami bahas dua contoh dampak negatif dari HP ini bagi kemimanan dan amal kita kaum muslimin dan muslimat.

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Sebagai contoh pertama, sebagaimana kita maklum bahwa akhir – akhir ini, melalui berbagai stasiun TV, banyak menawarkan berbagai Quiz (Undian) Berhadiah melalui SMS. Seperti Quiz Bola, Tebak Kata, termasuk Quiz Romadlon, Quiz Sahur, yang biasa ditayangkan selama bulan Romadlon penuh, dengan menjawab beberapa pertanyaan yang sangat mudah, kemudian dikirim ke operator. Nah bagi yang beruntung maka akan mendapatkan sampai hadiah jutaan rupiah bahkan ada hadiah umrah.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, di dalam Quiz tersebut, jelas terdapat unsur – unsur judi di dalamnya, yakni: untung – untungan/ mengundi nasib, adanya pihak yang dirugikan (yakni para pengirim SMS) dan adanya pihak yang diuntungkan, yakni Panitia Penyelenggara dan Operator Telkom (maka, jangan heran jika para pemirsa sering dihimbau untuk mengirim jawaban sebanyak – banyaknya, dan dengan tarif khusus, yang lebih mahal dari tarif SMS biasa).
Dengan adanya unsur – unsur perjudian itu, maka para ulama sepakat bahwa berbagai Quiz di TV melalui SMS itu adalah Judi yang 14 abad lalu Islam telah mengharamkannya, sebagaimana Firman Alloh dalam QS. Al – Maidah: 90.
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah (dengan alat apapun termasuk SMS), adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Sebagai contoh kedua, sebagaimana kita maklum bahwa akhir – akhir ini, juga melalui berbagai stasiun TV, Para Dukun dan Para Normal Kondang, seperti Ki Joko Bodo, Mama Laurent dll, juga menawarkan SMS RAMAL. Hanya dengan mengirim SMS spasi Ramal kemudian ketik permasalahan yang diahadapi oleh pengirim SMS (misalnya masalah: Nasib, Jodoh, Pekerjaan yang cocok dll), maka Para Dukun/ Para Normal itu, akan menjawab dengan ramalan – ramalan mereka.
Padahal kita maklum, bahwa kita umat Ismal dilarang mendatangi atau mempercayai berbagai bentuk ramalan para dukun/ para normal/ tukang tebak sejak 14 abad yang silam.
Sebagaimana  Nabi SAW bersabda:
 “Barang siapa datang kepada dukun/ para normal/ tukang ramal, kemudian ia menanyakan sesuatu (minta diramal tentang nasib, jodoh, pekerjaan yang cocok dll), kemudian ia mempercayainya, maka tidak akan diterima sholatnya, selama 40 hari” (HSh.R. Muslim; Umar Hasyim:125).

C. Penutup
Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Tentu saja masih banyak dampak negatif dari penggunaan HP ini. Misalnya peredaran gambar – gambar porno dan film – film porno yang banyak beredar melalui HP dll. Tentu saja bukan Hp-nya yang haram, tapi penggunaan HP yang salah itulah yang haram. Oleh karena itu, terlebih dalam rangka menyambut bulan Romadlon 1429 H, yang sebentar lagi akan hadir di tengah – tengah kita,  marilah, kita jaga diri kita, keluarga kita, anak – anak kita dan saudara kita kaum muslimin dan muslimat, dari penggunaan HP yang salah, sehingga bisa merusak keimanan dan merusak ibadah kita, yang pada akhirnya akan memasukkan kita ke dalam neraka di akhirat kelak, Na’udzubillahi mindzalika!

Untuk menutup khutbah kali ini, marilah kita perhatikan QS. An-Nisa: 48:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar”
Read More --►

MUDAHNYA BELAJAR AL – QURAN

KHUTBAH JUMAT “MUDAHNYA BELAJAR AL – QURAN” Oleh: Dalyana, S.Pd., M.Pd.

A. Pembukaan

Hadirin Jamaah Jumah rohiemakumulloh.
Sebagaimana kita maklum, bahwa fungsi Al – Quran bagi manusia di antaranya adalah sebagai Bacaan dan sebagai Petunjuk, agar kehidupan manusia selamat dan sejahtera di dunia, maupun di akherat.
Mengenai fungsi Al – Quran sebagai bahan bacaan, mungkin kita tidak perlu khawatir, karena dengan ditemukanna Metode Qiroati, Metode Iqra’ dan Metode Cara Cepat Belajar Membaca Al = Quran lainnya, maka kalau dulu kita yang tua – tua untuk belajar membaca Al – Quran itu perlu waktu bertahun – tahun, maka kini Alhamdulillah, anak – anak dan cucu – cucu kita yang masih usia TK/ SD/ MI telah lancar membaca Al – Quran. Sehingga tidak mengherankan, bila saat ini hampir 90 % lebih umat Islam telah pandai membaca Al – Quran.
Namun hadirin, tentang fungsi Al – Quran sebagai petunjuk, terasa masih sangat memprihatinkan. Kenapa demikian, karena kita maklum, bahwa Al – Quran diturunkan dalam bahasa Arab, sementara hampir 90 % umat Islam bukan Bangsa Arab dan tidak pandai bahasa Arab. Sehingga, bagaimana kita kita bisa menggunakan Al – Quran yang berbahasa Arab itu sebagai petunjuk dengan baik, manakala apa yang kita baca kita tidak paham apa arti dan maksudnya.
Ibaratnya, kalau kita sedang naik kendaraan, tiba – tiba di persimpangan jalan ada lampu tanda lalu lintas merah menyala. Kalau kita tahu, bahwa lampu merah itu artinya kita harus berhenti, tentu kita akan berhenti, sehingga terhindarlah kita dari tilang Polisi atau kemungkinan celaka. Namun bagaimana kalau kita tidak tahu apa arti tanda lampu merah yang menyala itu? Mungkin kita akan jalan terus, sehingga kemungkinan, masih mending kalau Cuma kena tilang Polisi! Tapi kalau celaka, siapa yang salah? Tentu kita sendiri, kenapa tidak mau mencari tahu apa artu tanda – tanda petunjuk lampu lalu lintas.
B. Isi Khutbah 
Hadirin Jamaah Jumah rohiemakumulloh
Mengingat pentingnya belajar terjemah Al – Quran ini, maka melualui khutbah kali ini, kami mencoba menunjukkan betapa mudahnya belajar Terjemah Al – Quran. Dengan harapan mudah – mudahan, kalau saya tahu bahwa di Masjid ini sejak beberapa bulan yang lalu telah dimulai adanya kelompok bapak – bapak yang belajar terjemah Al – Quran, akan menyusul kelompok ibu – ibu, kelompok remaja,  kelompok TPA. Bahkan harapan kami akan tumbuh subur kelompok – kelompok belajar terjemah Al – quran itu di Masjid – Masjid dan di Langgar – Langgar/ Musholla lain, sebagaimana tumbuhnya TKA dan TPA.
Hadirin Jamaah Jumah rohiemakumulloh
Tentang mudahnya belajar terjemah Al – Quran ini, kami sebutkan beberapa alasan sebagai berikut.
1.       Di Jakarta telah dikembangkan dan diujicobakan di berbagai Masjid dan Musholla, bahkan di kantor – kantor suatu Metode/ Cara Cepat Belajar Terjemah Al – Quran 40 Jam, sebagaimana telah pula dilaksanakan di Masjid ini. Dengan metode itu, Alhamdulillah, anak – anak usia SD kelas V ke atas,  Bapak – Bapak dan Ibu – Ibu Beberapa Jamaah Pengajian di Masjid, Langgar/ Musholla di berbagai wilayah di Indonesia, , ternyata setelah melalui penyajian materi dan latihan secara intensif sesuai dengan waktu yang disediakan ( 40 jam/ 20 kali pertemuan) mereka telah mampu menterjemah Al-Quran kata demi kata (secara lafdziyah) bterutama pada Juz I, sesuai dengan isi Materi Pada Buku ini maupun pada ayat – ayat lainnya, meskipun masih taraf pemula (belum pada taraf mahir).
Alloh SWT telah menjamin bahwa akan diberikan kemudahan bagi orang – orang yang mau belajar Al-Quran, baik belajar membaca maupun menterjemahkan Al-Quran, sebagaimana Alloh berfirman dalam QS. Al – Qomar (54) ayat ke - 17, 22, 32 dan 40.
“Dan sesungguhnya benar - benar telah kami mudahkan Al-Quran itu untuk pelajaran (peringatan), Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran (mau mempelajari)?”
Penjelasan: Ayat tersebut disebutkan oleh Alloh dalam surah yang sama sampai 4 kali, ini di samping menunjukkan pentingnya ayat ini juga menunjukkan agar kita benar-benar memperhatikan bahwa Alloh telah memudahkan bagi orang – orang yang mau mempelajari Al – Quran, baik membaca maupun menterjemahkan Al-Quran. Ingat syaratnya hanya mau/ punya kemauan tidak harus mampu atau pintar.  Ini terbukti telah ditemukannya berbagai metode atau cara cepat belajar membaca Al – Quran, seperti Metode Iqra’, Qiro’ati dll. termasuk cara cepat belajar menterjemah Al – Quran sepereti yang dikembangkan di Jakarta, maupun seperti yang Penulis lakukan selama ini.
1.       Di dalam Al – Quran yang terdiri dari 30 Juz itu kurang lebih terdiri atas 110.000 suku kata, di mana 79 % terdiri atas suku kata yang diulang – ulang. Misalnya: ttûïÏ%©!$#
yang artinya: orang- orang yang (ini diulang sebanyak 810 kali) ,  “         dan         “ artinya: mereka diulang di juz I diulang 97 kali, di juz II diulang 66 kali, di juz III diulang 79 kali, di juz IV diulang 120 kali, di juz V diulang 114 kali, di juz VI diulang 135 kali dan seterusnya. Kata “                        “ yang artinya juga mereka diulang 205 kali dan kata “                        “ artinya Alloh  diulang 2.698 kali dan masih banyak kata – kata lain yang juga diulang – ulang di dalam Al – Quran.
2.       Karena banyaknya kata – kata dalam Al- Quran yang diualg – ulang itulah, maka untuk  belajar Terjemah Al – Quran jangan melihat tebalnya Al – Quran, tetapi untuk bisa menterjemah Al – Quran cukup menguasai terjemah dari kata – kata yang terdapat dalam QS.Al – Fatihah dan QS. Al – Baqarah, terutama pada Juz I  yang terdiri atas 3.624 suku kata yang dibagi dalam 20 kali pertemuan, Insyaa Alloh dengan berbekal kemauan yang keras dan latihan yang intensif, kita akan mampu menterjemah Al – Quran yang terdiri dari 30 Juz itu, kata demi kata atau secara lafdziyah.
Hadirin Jamaah Jumah rohiemakumulloh
Mungkin timbul pertanyaan atau keragu – raguan, apakah bisa belajar terjemah Al – Quran tanpa harus mempelajari/ menguasai Ilmu Nahwu, Shorof dan Balaghoh?  Pertanyaan atau keraguan itu kami jawab sebagai berikut: memang idialnya begitu, namun mengingat untuk mempelajari Ilmu Nahwu, Shorof dan Balaghoh itu perlu waktu yang relatif lama, maka kalau mau belajar terjemah Al – Quran harus menunggu menguasai ilmu – ilmu itu, kapan belajar terjemahnya.
Oleh karena itu ternyata memang pada tahap awal telah terbukti bisa saja belajar terjemah Al-Quran, tanpa harus belajar Ilmu Nahwu, Shorof dan Balaghoh terlebih dahulu. Namun tentu saja akan lebih bagus apa bila belajar terjemah Al – Quran itu dibarengi dengan belajar Ilmu Nahwu, Shorof dan Balaghoh.
C. Penutup
Hadirin Jamaah Jumah rohiemakumulloh
Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, mudah – mudahan, sesuai dengan harapan, akan dapat menambah motivasi atau semangat bagi bapak – bapak atau saudara – saudara yang telah mengikuti belajar terjemah Al – Quran di Masjid ini maupun di tempat lain, serta akan mendorong Bapak – bapak, ibu – ibu, para remaja dan anak – anak yang belum mau belajar, akan segera menyusul untuk belajar. Ingat, tidak ada kata terlambat untuk belajar dan masih lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Harapan selanjutnya, mudah – mudahan, akan tumbuh subur kelompok – kelompok pengajian terjemah Al – Quran ini di berbagai Masjid dan Musholla, sebagaimana tumbuh suburnya TKA dan TPA selama ini.
Dengan demikian, dengan semakin banyaknya umat Islam yang paham terjemah Al – Quran, akan semakin baik pula pemahaman dan pengamalan Umat Islam terhadap Al – Quran, sehingga tidak tumbuh subur lagi aliran – aliran sesat di kalangan Umat Islam.
Akhirnya, akan selamtalah kehidupan kita umat Islam, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamien yaa Robbal ‘Aalamien.
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda: “Telah aku tinggalkan kepadamu sekalian dua perkara, di mana jika kamu sekalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidaklah kamu sekalian akan tersesat (selamtlah) untuk selama – lamanaya, yaitu: “Kuta Alloh (Al – Quran) dan Sunnah Rosul (Hadits)”    (Al – Hadits).
Read More --►

APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN UMAT ISLAM MENINGGALKAN AL – QURAN ?

KHUTBAH JUMAT“APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN UMAT ISLAM MENINGGALKAN AL – QURAN ?” Oleh: Dalyana, S.Pd., M.Pd.


Pendahuluan:
Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!

Puji dan syukur, marilah kita panjatkan ke hadirat Alloh SWT, yang telah melimpahkan berbagai nikmat, taufiq dan hidayah kepada kita sekalian, sehingga saat ini kita masih dapat berkumpul dan menunaikan ibadah jumah di Masjid yang mulia ini. Sholawat dan salam, semoga tercurah ke haribaan Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mau mengikuti petunjuk beliau, hingga akhir jaman kelak.

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!

Sebagaimana kita maklum, bahwa Al _ Quran itu diturunkan kepada kita Umat Islam menggunakan bahasa Arab. Oleh karenanya, kewajiban kita selaku umat Islam terhadap Al – Quran adalah, mempelajari cara membacanya, mempelajari cara menterjemahnya, mengamalkan dan mendakwahkan isi kandungannya.

Namun sayangnya, justru kebanyakan kita Umat Islam malah justru meninggalkan dan mengabaikannya. Hal ini sebagaimana pernah diadukan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Alloh SWT, yang diabadikan dalam Al – Quran Surah Al – Furqon (25) ayat 30, yang berbunyi:
Dan Rasul telah bersabda (mengadukan hal umatnya kepada Alloh) dengan bersabda: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sebagai mahjuuro".

Apakah arti kata “mahjuuro” ?, dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa kata “mahjuuro”, diartikan sebagai “sesuatu yang ditinggalkan atau diabaikan atau diacuhkan”. Dengan demikian ayat di atas mengandung pengertian bahwa, Nabi mengadukan halnya, bahwa Umat Islam ini, telah banyak yang meninggalkan atau mengabaikan atau mengacuhkan Al – Quran.

Masalahnya adalah:  Siapa sajakah yang termasuk golongan orang – orang yang meninggalkan Al – Quran itu?

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Sesuai dengan kewajiban kita Umat Islam terhadap Al – Quran, sebagaimana saya sebutkan di awal khutbah ini, maka setidaknya terdapat 4 golongan, orang – orang yang termasuk meninggalkan/ mengabaikan/ mengacuhkan Al – Quran itu. Siapa sajakah mereka itu ?, Mereka itu adalah:
1)      Orang – orang yang tidak bisa membaca Al – Quran dan tidak mau mempelajari cara membaca Al – Quran. Sekalipun mereka tidak bisa membaca Al – Quran, tetapi jika masih mau mengaji membaca Al – Quran, tentu tidak termasuk di dalamnya.
2)      Orang – orang yang bisa membaca Al – Quran, tetapi tidak bisa mengartika/ menerjemahkan/ menafsirkannya dan tidak mau belajar bagaimana cara menterjemah dan menafsirkan ayat – ayat Al – Quran.
3)      Orang – orang yang bisa membaca, bisa mengartikan/ menafsirkan, tetapi mereka tidak mengamalkan isi kandungan Al – Quran.
4)      Orang – orang yang bisa membaca, bisa mengartikan/ menafsirkan dan mengamalkan isi kandungan Al - Quran, tetapi tidak sanggup untuk mendakwahkan isi kandungannya, setidaknya untuk kalangan keluarga mereka sendiri.

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!

Dari uraian di atas, marilah kita menginstropeksi dan bertanya pada diri kita msing – masing, Apakah kita termasuk di dalam salah satu dari 4 golongan di atas? Kalau kita tidak termasuk di dalamnya, tentu kita bersyukur dan memang itu yang kita harapkan. Namun, kalau kita termasuk di dalamnya, bagaimana jalan keluarnya?

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Kalau kebetulan selama ini kita masih termasuk salah satu dari golongan orang – orang yang telah mengabaikan/ mengacuhkan/ meninggalkan Al – Quran sebagaimana keterangan di atas, maka tiada jalan lain, kecuali kita harus segera beristighfar atau memohon ampun kepada Alloh SWT atas kelalaian kita selama ini. Selanjutnya marilah kita, baik anak – anak, para pemuda dan termasuk generasi tua, agar segera berlomba – lomba berusaha untuk keluar dari keempat golongan di atas sejak saat ini dan seterusnya ke depan, dengan cara – cara sebagai berikut:
1)      Bagi kita yang belum bisa membaca Al – Quran, harus segera belajar membaca, menterjemah, megamalkan dan mendakwahkan Al – Quran.
2)      Bagi kita yang baru bisa membaca tetapi belum bisa menterjemah, Al – Quran, harus segera belajar menterjemah, megamalkan dan mendakwahkan Al – Quran.
3)      Bagi kita yang sudah bisa membaca, bisa menterjemah, tetapi masih sering mengabaikan perintah dan melanggar larangan Al – Quran, harus segera bertobat dan berusaha untuk segera mengamalkan dan mendakwahkan Al – Quran.
4)      Bagi kita yang sudah bisa membaca, menterjemah dan mengamalkan Al – Quran, harus segera belajar bagaimana mendakwahkan Al – Quran kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan kita masing – masing.

Jangan sampai seperti yang terjadi saat ini, kita Umat Islam di mana – mana justru miskin dan tertinggal dalam berbagai bidang kehidupan dari umat lain. Bahkan tidak sedikit saudara – saudara kita Umat Islam yang kini malah ditindas dan dijajah oleh Umat lain, seperti di Palestina, Philipina Selatan, Afganistan, Iraq dll. Itu semua tiada lain penyebabnya, karena kebanyakan kita Umat Islam banyak yang meninggalkan Al – Quran, sementara umat lain justru mengamalkan ayat – ayat Al – Quran, tetapi untuk kepentingan mengalahkan dan menindas Umat Islam.

Janganlah sampai kita punya pandangan bahwa belajar Al – Quran itu sulit dan perlu waktu yang lama. Sebab kini telah ditemukan berbagai metode atau cara cepat untuk belajar membaca dan menterjemah Al – Quran. Hal ini semakin membuktikan kebenaran janji atau jaminan Alloh SWT, bahwa belajar membaca dan menterjemah Al – Quran itu akan dimudahkan, asalkan kita punya kemauan. Hal ini ditegaskan oleh Alloh dalam QS. . Al – Qomar (54) ayat ke - 17, 22, 32 dan 40.

“Dan sesungguhnya benar - benar telah kami mudahkan Al-Quran itu untuk pelajaran (peringatan), Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran (mau mempelajari)?”

Insyaa Alloh, kalau kita Umat Islam tidak ada lagi banyak yang meninggalkan Al – Quran, maka kita akan menjadi umat yang maju, uamat yang jaya, umat yang tidak lagi tertinggal, tertindas dan terjajah oleh Umat/ bangsa lain. Bahkan kita akan bahagia dan sejahtera di dunia ini maupun di akhirat kelak. Aamien, yaa Robbal ‘Aalaien.
Read More --►

PERLU KEHATI – HATIAN DALAM BEROBAT

KHUTBAH JUMAH “PERLU KEHATI – HATIAN DALAM BEROBAT”


         A.  Pembukaan

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh,
Seiring dengan munculnya berbagai macam penyakit yang sulit disembuhkan melalui dunia medis (kedokteran) maka, akhir – akhir ini begitu banyak bermunculan berbagai teknik atau cara pengobatan alternative yang ditawarkan kepada kita. Baik pengobatan dengan reiki, prana, teknik pernapasan, bioenergi, pengobatan jarak jauh maupun pengobatan dengan tenaga dalam. Penawaannyapun melalui berbagai macam cara. Baik melalui televisi, Koran, majalah maupun melalui berbagai selebaran di jalan – jalan atau dari rumah ke rumah. Baik yang membayar hingga jutaan rupiah, membayar seikhlasnya, sampai yang cuma – cuma atau gratis.
Dengan penawarannya yang sanggup menyembuhkan berbagai macam penyakit tanpa operasi, terlebih lagi dengan kehebatan sang Pengobat yang telah terbukti banyak pasien yang berhasil disembuhkan, maka tidak mengherankan ketika dibuka pengobatan alternative tersebut, apa lagi gratis, maka berbondong – bondonglah orang – orang ke sana, termasuk umat Islam, yang tanpa pertimbangan bagaimanakah cara pengobatan tersebut, jika ditinjau dari syari’at Islam. 
Masalahnya adalah: (1) Kenapa  jika kita sakit wajib berusaha untuk berobat dan berdo'a dan tidak boleh hanya bertawakal saja, apatah lagi berputus asa? (2) Pengobatan yang seperti apa yang dilarang dalam Islam? dan (3) Pengobatan seperti apa yang dibenarkan dalam Islam?

B. Isi Khutbah
Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
  Karena Nabi Muhammad SAW melalui beberapa sabdanya menyatakan agar seseorang yang sakit itu mesti berobat dan berdoa, tetapi tidak boleh berobat dengan sembarang obat dan dengan sembarang cara, tidak boleh kita berobat dengan barang ataupun cara pengobatan yang haram. Meskipun demikian, selanjutnya urusan sembuh atau tidaknya barulah ia  wajib bertawakal kepada Alloh SWT. Karena berobat itu merupakan suatu usaha atau ikhtiar. Sedang kita maklum bahwa wajib hukumnya setiap orang untuk berusaha, berdoa dan bertawakal dan tidak tidak dibenarkan kita hanya berdoa dan bertawakal saja.
Beberapa  contoh barang haram yang tidak boleh untuk berobat itu antara lain: hamar, darah, daging babi dll. Adapun contoh cara pengobatan yang haram itu antara lain: pengobatan dengan sihir, pengobatan dengan mantera yang mengandung kata – kata syirik atau kata – kata yang tidak diketahui maknanya, pengobatan dengan sihir, minta bantuan jin/ syaitan seperti yang dilakukan oleh para dukun tukang sihir.
Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits/ sabda Nabi Muhammad SAW, berikut ini:
1.       “Sesungguhnya Alloh telah menurunkan penyakit dan juga obatnya dan Dia telah mengadakan obat bagi tiap – tiap penyakit. Maka (bila kau sakit) berobatlah, tetapi janganlah kamu berobat dengan (barang atau caa) yang haram”  (H.Sh.R. Abu Dawud; Umar Hasyim: 181).
2.       “Sesungguhnya arak itu bukan obat, tetapi ia itu penyakit” (H.Sh.R. Muslim dan Tirmidzi; Umar Hasyim: 180 – 181).
3.       “Sesungguhnya Alloh tidak membuat obat penyembuh penyakitmu, di dalam apa – apa yang telah diharamkan atasmu” (H.Sh.R. Bukhari; Umar Hasyim: 181).
4.       “Barang siapa datang kepada dukun (tukang ramal), lalu ia menanyakan sesuatu padanya dan ia mempercayainya, maka tidak akan diterima shalanya selama 40 hari” (H.Sh.R. Muslim; Umar Hasyim: 123).
5.       “Bukanlah dari golongan kami orang yang bertathayur atau orang yang bertenung atau minta ditenung atau mensihir atau minta disihir” (H.R. Bazzaar dan Thabrani; Umar Hasyim: 145).
6.       “Jauhilah hal – hal yang mencelakakan, yaitu: syirik kepada Alloh dan sihir” (H.Sh.R. Bukhari; Umar Hasyim: 145).
7.       “Sesungguhnya jampi – jampi (mantera), tangkal (azimat) dan guna – guna adalah syirik” (H.Sh.R. Ibnu Hibban dan Hakim; Umar Hasyim: 213).
8.       “Barang siapa yang menggantungkan azimat, maka ia jadi musyrik” (H.R. Ahmad; Umar Hasyim: 213).

Lantas Bagaimanakah Cara Pengobatan Yang Dibenarkan Menurut Islam?

Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Mengingat masalah berobat ini termasuk masalah atau urusan dunia atau bukan urusan ibadah, maka berlakulah qaidah ushul fiqih “Bahwa semua urusan dunia adalah halal, bisa berubah menjadi haram atau makhruh apa bila ada dalil yang melarang atau yang memalngkannya”. Sesuai pula dengan sabda Nabi Muhammad SAW: yang menyatakan bahwa: “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu” (Al – Hadits).
Berdasarkan keterangan di atas segala cara pengobatan, sepanjang tidak menggunakan barang atau cara yang haram, seperti keterangan pada bagian A tentu dibolehkan. Namun tentu saja akan lebih tepat apa bila pengobatan itu dilakukan oleh ahli pengobatan, seperti: dokter atau tabib, manteri keehatan, bidan dan perawat.
Di samping itu ada satu cara pengobatan penyakit jasmani maupun rohani dengan cara dibacakan ayat – ayat atau do’a – do’a baik mengunakan bahasa arab atau lainnya, di mana kata – kata yang terdapat dalam bacaan – bacaan maupun doa – doa itu dapat diketahui maksud atau artinya serta tidak terdapat di dalamnya kesyirikan. Cara pengobatan seperti itu yang disebut rukyah.
Cara pengobatan dengan metode rukyah ini, tentu saja lebih tepat apa bila penyakit yang diderita pasien, disinyalir disebabkan oleh pengaruh sihir atau gangguan jin/ syaithan, yang dunia medis atau dokter belum dapat mendeteksi penyakit maupun obatnya. Meskipun tidak menutup kemungkinan rukyah ini juga dapat menyembuhkan penyakit jasmani biasa.

Apa Saja Dalil – Dalil Atau Alasan – Alasan Dibolehkannya Pengobatan Dengan Metode Rukyah?
  
Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh!
Terdapat banyak keterangan baik dari Ayat Al – Quran, Hadits maupun Riwayat Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang membenarkan cara pengobatan dengan rukyah ini, antara lain sebagai berikut:
1.       Firman Alloh dalam QS. Al – Isra’ (17): 82
“Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”

Sebagian ulama berpendapat yang dimaksudkan penawar (obat) pada ayat di atas adalah obat bagi penyakit ruhani, tetapi sebagian ulama berpendapat sebagai obat secara umum, baik penyakit ruhani maupun penyakit jasmani, sesuai keumuman ayat tersebut (Abdus Salam Bali I: xvi)..
1.       Diriwayatkan dari Aisyah ra. Nabi pernah masuk ke rumahnya, di mana ketika itu ia sedang mengobati dan merukyah seorang wanita, lalu Nabi bersabda: “Obatilah dengan Kitab Alloh” (Abdus Salam Bali I: xvi)..
2.       Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id Al – Khudri ra. pernah merukyah seorang kepala suku tertentu dengan membacakan QS. Al – Fatihah, di akhir hadits itu Nabi bersabda kepadanya: “Bagaimana kamu tahu bahwa surah itu dapat sebagai obat” (H.Sh.R. Bukhari; Abdus Salam Bali I: xvii).
3.       Diriwayatkan bahwa para sahabat pernah menyatakan kepada Nabi, bahwa di masa jahiliyah mereka biasa mengobati orang yang sakit dengan bacaan – bacaan atau jampi – jampi, lalu Nabi bersabda: “Kemukakan bacaan jampi – jampi kalian itu padaku, tidak mengapa melakukan jampi – jampi itu, selama tidak terdapat kemusyrikan di dalamnya” (H.Sh.R. Muslim; Abdus Salam Bali I: xvii).

Bagaimana Ciri – Ciri Dukun atau Tukang Sihir Itu?

Berdasarkan dalil – dalil tentang cara dukun atau tukang sihir meminta bantuan kepada jin/ syaitan, dapat dikenali bahwa beberapa tanda pengobatan yang dilakukan oleh dukun/ tukang sihir dan diharamkan oleh agama, antara lain sebagai berikut:
1.       Bertanya kepada penderita tenatng namanya dan nama ibunya.
2.       Mengambil salah satu benda bekas pakaian penderita
3.       Kadang – kadang meminta binatang dengan syarat – syarat tertentu {misal ayam putih/ hitam mulus), untuk disembelih dengan tidak menyebut nama Alloh, kemudian mengoleskan darahnya pada bagian tubuh yang sakit, atau dilemparkannya atau dikubur binatang sembelihan tadi di tempat tertentu.
4.       Menulis jimat – jimat tertentu (mungkin untuk mengecoh ia tulis dengan tulisan arab, atau bahkan ia tulis ayat – ayat Al – Quran).
5.       Membaca mantra – mantra atau jimat – jimat yang tidak dapat dipahami maknanya.
6.       Memberi hijab (semacam kerudung), yang padanya terdapat segi empat yang di dalamnya bertuliskan beberapa huruf atau angka.
7.       Menyuruh penderita menghindari orang “uzlah” selama waktu tertentu di kamar gelap yang tidak terkena sinar matahari. (Orang awam menyebutnya “hijbah/ nyepi”.
8.       Kadang – kadang penderita diminta untuk tidak tersentuh air selama waktu tertentu (biasanya 40 hari).
9.       Memberikan benda – benda tertentu (kadang dibungkus kain putih) kepada penderita, untuk ditanam/ dikubur di tanah.
10.   Memberikan beberapa kertas (kemenyan) untuk dibakar agar berasap dengannya.
11.   Berkomat – kamit membaca mantra – mantra tertentu yang tidak bisa dipahami maksudnya.
12.   Kadang – kadang ia memberitahukan tentang nama, asal dan masalah yang akan ditanyakan (sebelum penderita/ orang yang datang menyampaikan sesuatu, demi untuk menunjukkan kesaktiannya).
13.   Menuliskan potongan huruf – huruf tertentu di kertas atau di piring dari daun tembikar berwarna putih, kemudian dilarutkan ke dalam air dan diminum penderita.
Nah apabila kita menemui salah satu atau beberapa dari ciri – ciri di atas, jelas orang yang melakukan pengobatan itu adalah dukun/ tukang sihir yang haram kita meminta tolong dengannya (Abdus Salam Bali: 59 – 60).
  
C. Penutup
Hadirin Jamaah Jumah Rohiemakumulloh,
Demikianlah khutbah siang ini mudah-mudahan kita menjadi lebih berhati - hati dalam berobat. Mudah-mudahan kita menjadi yakin bahwa obat yang kita minum atau cara pengobatan yang kita lakukan benar - benar halal atau dibenarkan menurut Islam, bukan obat atau cara pengobatan yang diharamkan apa lagi yang akan menyebabkan kita menjadi syirik karenanya. Amien...amien yaa Robbal 'Alamien.
Read More --►

Senin, 25 Februari 2013

HATI YANG ISTIQOMAH


HATI  YANG ISTIQOMAH

KHUTBAH PERTAMA :
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia, dan di hari yang mulia ini, marilah kita selalu menjaga dan meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang dibangun karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bukan keridhaan manusia, ketakwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari Alquran dan sunah Rasulullah, dan ketakwaan yang dibuktikan dengan amal perbuatan dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan Nabi-Nya karena mengharap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan Allah dan Nabi-Nya karena takut terhadap azab dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Thalq bin Habib rahimahullah seorang tabi’in, suatu ketika pernah menuturkan sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Fatawanya,
اَلتَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَرْجُو رَحْمَة َالله وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَخَافَ عَذَابَ الله.
“Takwa adalah kamu mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, kamu mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah.”
Demikianlah seharusnya yang selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan membawa dampak dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan iltizam (konsisten) terhadap agamanya sehingga pada akhirnya akan membentuk keluarga dan komunitas masyarakat yang senantiasa berjalan di atas manhaj dan jalan yang lurus. Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kehidupan yang baik di dunia serta memberikan balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah diperbuat di akhirat kelak sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Sebenarnya yang menjadi pangkal utama sehingga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selamat dari azab-Nya pada hari kiamat kelak adalah sejauh mana dia dapat menjaga dan memelihara hatinya sehingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya dzat yang selalu membolak-balikkan hati setiap hambaNya sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan justru sebaliknya, di mana hatinya selalu condong kepada hawa nafsunya dan tipu daya setan laknatullah alaihi. Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat ketampanan dan kecantikan wajah kita, tidak pula melihat kemulusan dan kemolekan badan-badan kita, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya akan melihat hati-hati kita dan amal perbuatan kita. Manakala hati seseorang bersih, maka akan membawa dampak kepada kebaikan seluruh anggota tubuhnya, begitu sebaliknya jika hati seseorang telah rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana hal ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.
أَلاَ، وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari).
Karena itulah ma’asyiral Muslimin, hati mempunyai peranan yang sangat fital dalam diri seseorang dan menjadi sentral bagi anggota tubuh lainnya sehingga keberadaannyalah yang dapat menentukan baik buruk dan hitam putihnya seluruh amalan dan aspek kehidupan seorang muslim.
Tentu yang demikian tidak sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan manusia, khususnya kaum muslimin di mana kalau kita perhatikan kondisi kebanyakan mereka, niscaya kita akan menyaksikan suatu fenomena yang sangat memprihatinkan dan me-nyedihkan. Mereka memahami bahwa tolak ukur kebahagiaan seseorang sekedar dengan penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga mereka sibuk dengan kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan mempercantik diri dengan berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat yang sama, mereka lalai dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian batin yang pada akhirnya justru dapat menyelamatkan mereka; baik di dunia maupun di akhirat kelak. Marilah kita renungkan sebuah ayat sebagai bantahan Allah terhadap mereka, sebagaimana Firman-Nya :
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِءْيًا
Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Maryam: 74).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِي اْلأَرْضِ فَمَآأَغْنَى عَنْهُم مَّاكَانُوا يَكْسِبُون.
Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.” (Al-Mu`min: 82).
Dua ayat di atas, cukuplah memberikan penjelasan dan informasi kepada kita bahwa segala sesuatu yang mereka usahakan dan mereka nikmati ternyata tidak berguna dan tidak dapat menyelamatkan mereka. Na’udzubillahi min dzalik.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Oleh karenanya, keindahan batin dan keselamatan hati merupakan dasar dan pondasi keberuntungan di dunia dan di Hari Kiamat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يَابَنِى ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ ءَايَاتِ ِالله لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al-A’raf: 26).
Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat mulia, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab-kitab suci-Nya untuk memperbaiki hati, dan Dia utus para Rasul untuk menyucikan hati, membersihkan, dan memperindahnya. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
لَقَدْ مَنَّ ِالله عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (keda-tangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164).
Ajaran yang paling besar yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memperbaiki hati. Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara yang telah ditempuh oleh beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian seseorang akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi cahaya dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dengannya seseorang dapat mengenal Rabbnya, mengenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, serta dapat menghayati ayat-ayat syar’iyah Allah, dengannya seseorang dapat merenungkan ayat-ayat kauniyah-Nya serta dengannya seseorang dapat menempuh perjalanan menuju akhirat, karena sesungguhnya perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perjalanan hati dan bukan perjalanan jasad.
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuturkan di dalam salah satu kitab beliau, “Hati yang sehat, yaitu hati yang selalu terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati, kikir, takabur, cinta dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan menjauhkannya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia selamat dari setiap syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang menentang jati dirinya, dan ia terbebas dari segala keinginan yang akan menyesaki tujuannya. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan menghalanginya dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia dan surga di alam kubur, serta surga di Hari Kiamat. Keselamatan hati tidak akan terwujud, kecuali dengan terjaga dari lima perkara, yaitu syirik yang bertentangan dengan tauhid, dari bid’ah yang berhadapan dengan sunnah, dari syahwat yang menghambat urusannya, dari ghaflah (kelalaian) yang menghilangkan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dari hawa nafsu yang akan menghalangi ikhlash.” (al-Jawab al-Kafi, 1:176).
Ibnu Rajab al-Hanbali pernah berkata, “Keutamaan itu tidak akan diraih dengan banyaknya amal jasmani, akan tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya pengetahuan dan amalan hati.” (Mahajjah fi Sair ad-Daljah, hal. 52).
Ini semua menunjukkan bahwa dasar keimanan atau kekufuran, hidayah atau kesesatan, keberuntungan atau kenistaan tergantung pada apa yang tertanam di dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah pernah menuturkan, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ.
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat kepada hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya.” (HR. Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan “kekufuran”, maka ia tidak berdosa selagi hatinya masih tetap teguh beriman kepada Islam dan tetap dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana FirmanNya :
مَن كَفَرَ بلله مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ ِالله وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ . ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ الله َ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An-Nahl: 106-107).
Ayat ini diturunkan, sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan kejadian yang menimpa Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat siksaan dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan kalimat kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan kepada Rasu-lullah sambil menangis.
قَالَ: كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ قَالَ: مُطْمَئِنًّا بِالْإِيْمَانِ. قَالَ: إِنْ عَادُوْا فَعُدْ.
“… maka Nabi bersabda, ‘Bagaimana kondisi hatimu?’ Ia menjawab, ‘Aku masih tenang dalam beriman.’ Maka Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya kemudahan), ‘Kalau mereka kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi’.” (HR. al-Hakim, 2:357).
Di dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas bin Malik,
لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.
Iman seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus.” (HR. Ahmad, no. 13079).
Ma’asyiral muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Demikian agungnya keutamaan dan urgensi hati seseorang di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga kita dapat mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diucapkan dengan ungkapan,
لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ.
Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati.”
Dan di antara doa beliau adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”
Hal yang demikian, karena pada dasarnya kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti batu atau bahkan lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, rahmatNya, dan dari ketaatan-Nya. Dan sejauh-jauh hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi bermanfaat baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut, perkataan tidak menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki hati yang demikian di dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat apa-apa baginya, dan tidak akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut, yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap Penciptanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta selalu mendekatkan diri kepada-Nya, mengharapkan rahmatNya dan menjaga ketaatan-Nya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu menerima kebaikan.
Maka dari itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggarisbawahi bahwa keselamatan di Hari Kiamat kelak sangat tergantung kepada keselamatan, kebersihan, dan kebaikan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى ِالله بِقَلْبٍ سَلِيم
Di hari yang mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara` : 88 – 89).
Dengan demikian, marilah kita bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan senantiasa mengawasinya, di mana dan kapan saja waktunya, karena ia satu-satunya anggota tubuh kita yang paling besar bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling sulit mengurus dan memperbaikinya. Wallahul musta’an.
اللهم أَصْلِحْ شَأْنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاهْدِهِمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ، اللهم ارْزُقْهُمْ رِزْقًا مُبَارَكًا طَيِّبًا. اللهم أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
فَاتَّقُوا الله عِبَادَ ِالله ، وَخُذُوْا بِالْأَسْبَابِ الَّتِيْ تَحْيَى بِهَا الْقُلُوْبُ قَبْلَ أَنْ تَقْسُوَ وَتَمُوْتَ، فَإِنَّ ذلك مَنَاطُ سَعَادَتِكُمْ أَوْ شَقَائِكُمْ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ ِالله لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إلا ِالله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Miqdad bin al-Aswad, ia menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْيًا.
Sungguh, hati anak Adam (manusia) itu sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih.” (HR. Ahmad, no. 24317).
Kemudian al-Miqdad berkata, “Sesungguhnya orang yang beruntung (bahagia) itu adalah orang yang benar-benar terhindar dari berbagai fitnah (dosa).” Ia mengulangi ucapannya tiga kali, sambil memberikan isyarat bahwa sebab berbolak-balik dan berubahnya hati adalah dosa-dosa yang berdatangan menodai hati.
Maka dari itu, agar hati kita tidak mudah terpeleset dan menyimpang dari kebenaran dan cahaya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan sampai tertutup dan terkunci karena hawa nafsu yang membelit-nya serta segala hal yang dapat merusak dan membinasakannya, maka perlu adanya usaha-usaha penjagaan terhadap hati yang bersifat kuratif dan kontinyu, sekaligus resep (obat) sebagai usaha prefentif agar bisa selamat dari segala bentuk penyakit-penyakit hati yang mematikan.
Di antara hal yang dapat menyebabkan hati seseorang menjadi tenang dan bersih adalah amalan memperbanyak membaca ayat-ayat Alquran dan mendengarkannya, karena Alquran merupakan penawar yang ampuh dari penyakit syubhat dan nafsu syahwat yang keduanya merupakan inti penyakit hati seseorang. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan yang akurat yang membedakan yang haq dari yang batil, sehingga syubhat akan hilang, dan di dalamnya terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia, dan menghimbau untuk lebih mengutamakan kehidupan akhirat, sehingga penyakit nafsu syahwat akan hilang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaf : 37).
ِالله نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ ِالله ذَلِكَ هُدَى ِالله يَهْدِي بِهِ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِل ِالله فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, gemetar karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pemberi petunjuk pun baginya.” (Az-Zumar: 23).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alquran yang menunjukkan demikian. Ini menunjukkan bahwa Alquran adalah sesuatu yang paling agung yang dapat melembutkan hati, bagi yang membaca, mendengarkan, dan merenungkannya, serta mengamalkannya dalam prilaku kehidupan sehari-hari.
Di antara usaha yang dapat menenangkan hati adalah dengan mengambil pelajaran terhadap kejadian dan peristiwa serta kehancuran yang menimpa umat-umat terdahulu akibat kemaksiatan yang mereka lakukan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ . أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang berada di dalam dada.” (Al-Hajj: 45 – 46).
Kemudian di antara yang dapat menenangkan hati adalah dengan banyak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam situasi dan kondisi apa pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ الله وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka, dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Rabb merekalah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2).
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ الله أَلاَبِذِكْر ِالله تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Rad: 28).
Dan termasuk penjagaan hati adalah menerima secara total setiap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengamalkannya serta menjauhi setiap laranganNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَإِذَا مَآأُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هذه إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ . وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada), dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 124 – 125).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَإِذَا مَآأُنزِلَتْ سُورَةٌ نَّظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُم مِّنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ الله قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَيَفْقَهُونَ
Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), ‘Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?’ Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (At-Taubah: 127).
Dan di antara amalan yang dapat menjaga hati seseorang dan membuatnya lembut adalah turut merenungkan keadaan orang-orang sakit, orang fakir miskin, serta orang-orang yang telah tertimpa musibah dan cobaan. Karena dengan mengunjungi orang sakit dan melihat kondisi dan penderitaan mereka akibat penyakit yang dideritanya, maka kita bisa menilai nikmat, begitu juga manakala kita melihat keadaan orang-orang fakir miskin dan anak yatim, dan merenungkan apa yang menjadi kebutuhan mereka, tentu kita akan merasakan dan mengetahui nilai nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dianugerahkan kepada kita sehingga dapat menenangkan hati kita. Namun manakala kita mengabaikan hal-hal yang demikian, maka yang demikian dapat membuat hati-hati kita mengeras.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap WajahNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengha-rapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Di samping kita memperhatikan dan menghiasi hati-hati kita dengan hal-hal tersebut di atas, maka sebagai bentuk penjagaan kita juga harus senantiasa menghindari hal-hal yang dapat mengotori, merusak, menodai, dan mencemarkan hati-hati kita. Di antaranya, tidak sibuk dan mudah terpedaya dengan kenikmatan dunia yang melalaikan, terbiasa dan membiarkan mata memandang hal-hal yang diharamkan; baik melalui televisi ataupun video, dari segala bentuk siaran sinetron, ataupun gambar-gambar yang terdapat dalam surat kabar ataupun majalah, mendengarkan musik dan menikmati nyanyian seorang penyanyi, ataupun menyibukkan diri dengan olah raga tertentu, baik mengikuti perkembangannya, melihatnya secara berlebihan sampai banyak menyita sebagian besar waktu yang ada.
Dan di antara yang dapat mengotori dan merusak hati adalah makan makanan yang haram, dan berteman dengan pelaku dosa dan maksiat.
Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya kebajikan itu menyebabkan cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kekuatan pada jasmani, melapangkan rizki dan menimbulkan rasa kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan keburukan (dosa) menyebabkan kegelapan di dalam hati, kemuraman pada muka, kelemahan pada jasmani, mengurangi rizki, dan menimbulkan rasa benci terhadap sesama.” (Madarij as-Salikin, 1:424).
Semoga kita yang hadir di majelis yang mulia ini, termasuk golongan yang akan mendapat penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga hati-hati kita senantiasa selamat dan bersih dari segala sesuatu yang dapat menodai dan merusaknya.Amin ya rabbal ‘alamin.
إِنَّ الله وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


Read More --►

Dengan Takwa Kita Gapai Masa depan Yang Gemilang Serta Kehidupan Yang Hakiki


Dengan Takwa Kita Gapai Masa depan Yang Gemilang Serta Kehidupan Yang Hakiki


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Para hadirin yang berbahagia.
Pada hakekatnya tak ada penyejuk yang benar-benar menyegarkan, dan tak ada obat yang paling mujarab selain taqwa kepada Allah.
Hanya taqwa kepadaNyalah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari adzabNya di dunia maupun di akhirat nanti, karena taqwa jualah seseorang akan mewarisi Surga Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Saudara-saudara yang berbahagia.
Pengertian taqwa itu sendiri mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara kepada satu pengertian yaitu seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dari adzabNya, hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang di perintahkan-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya.
Para hadirin yang berbahagia
Bila kata taqwa disandarkan kepada Allah maka artinya takutlah kepada kemurkaanNya, dan ini merupakan perkara yang besar yang mesti ditakuti oleh setiap hamba. Imam Ahmad bin Hambal Radhiallaahu anhu berkata, “Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut (kepada Dzat yang engkau takuti)”. Lebih lanjut ia mengatakan, “Takut kepada Allah, ridha dengan ketentuanNya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti.”
Para hadirin yang berbahagia
Pada hakekatnya Allah Subhannahu wa Ta'ala mewasiatkan taqwa ini, bukan hanya pada umat Nabi Muhammad, melainkan Dia mewasiatkan kepada umat-umat terdahulu juga, dan dari sini kita bisa melihat bahwa taqwa merupakan satu-satunya yang diinginkan Allah.
Allah Subhannahu wa Ta'ala menghimpun seluruh nasihat dan dalil-dalil, petunjuk-petunjuk, peringatan-peringatan, didikan serta ajaran dalam satu wasiat yaitu Taqwa.
Hadirin yang berbahagia.
Pernah suatu ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berwasiat mengenai taqwa, dan kisah ini diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam shalat subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik yang dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati yang mendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, sepertinya ini nasihat terakhir oleh karena itu nasihatilah kami”. Lalu Nabi bersabda:
أَوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
Artinya: “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa di antara kamu hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah sunnah ini erat-erat). Dan berwaspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Ahmad IV:126-127; Abu Dawud, 4583; Tarmidzi, 2676, Ibnu Majah, 43; Ad-Darimi 1:44-45; Al-Baghawi, 1-205, syarah dan As Sunnah, dan Tarmidzi berkata, hadits ini hasan shahih, dan shahih menurut Syaikh Al-Albani).
Hadirin yang berbahagia.
Tentang sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam: “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati”, tersebut di atas, Ibnu Rajab berkata, bahwa kedua kata itu yaitu mendengar dan mentaati, mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia.
Di samping itu taqwa juga merupakan sebaik-baiknya pakaian dan bekal orang mu’min, hal ini seperti yang digambarkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam firmanNya surat Al-A’raaf ayat 26 dan Al-Baqarah ayat 197. Allah berfirman:
Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. (Al-A’raaf: 26).
Allah Ta'ala menganugerahkan kepada hamba-hambaNya pakaian penutup aurat (al-libas) dan pakaian indah (ar-risy), maka al-libas merupakan kebutuhan yang harus, sedangkan ar-risy sebagai tambahan dan penyempurna, artinya Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang bisa menutupi aurat yang lahir maupun batin, dan sekaligus memper-indahnya, yaitu pakaian at-taqwa.
Qasim bin Malik meriwayatkan dari ‘Auf dari Ma’bad Al-Juhani berkata, maksud pakaian taqwa adalah al-hayaa’ (malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan.
Adapun taqwa sebagai sebaik-baiknya bekal sebagaimana tertuang dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu, hai orang-orang yang berakal”
Para hadirin yang berbahagia
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, dengan menyatakan bahwa kalimat “sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”, menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk mengambil bekal dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang bekal menuju akhirat (yaitu taqwa).
Para hadirin yang berbahagia.
Seandainya kita mampu mengaplikasikan atau merealisasikan, kedua ayat di atas bukanlah suatu hal yang mustahil, dan itu merupakan modal utama bagi kita untuk bersua kepada Sang Pencipta.
Saudara-saudara yang berbahagia, banyak sekali faktor-faktor penunjang agar kita bisa merasakan ketaqwaan tersebut, di antaranya:
1. Mahabbatullah
2. Muraqabatullah (merasakan adanya pengawasan Allah)
3. Menjauhi penyakit hati
4. Menundukkan hawa nafsu
5. Mewaspadai tipu daya syaitan
1.   Mahabbatullah
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Mahabbah itu ibarat pohon (kecintaan) dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah ma’rifah kepadaNya, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadapNya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya, bahan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya, kapan saja, jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).
2.   Merasakan adanya pengawasan Allah.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hadid: 4).
Makna ayat ini, bahwa Allah mengawasi dan menyaksikan perbuatanmu kapan saja dan di mana saja kamu berada. Di darat ataupun di laut, pada waktu malam maupun siang. Di rumah kediamanmu maupun di ruang terbuka. Segala sesuatu berada dalam ilmuNya, Dia dengarkan perkataanmu, melihat tempat tinggalmu, di mana saja adanya dan Dia mengetahui apa yang kamu sembunyikan serta yang kamu fikirkan”. (Tafsir Al-Qur’anul Adzim, IV/304).
3.   Menjauhi penyakit hati
Para hadirin.
Di dunia ini tidak ada yang namanya kejahatan dan bencana besar, kecuali penyebabnya adalah perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Adapun penyebab dosa itu teramat banyak sekali, di antaranya penyakit hati, penyakit yang cukup kronis, yang menimpa banyak manusia, seperti dengki, yang tidak senang kebahagiaan menghinggap kepada orang lain, atau ghibah yang selalu membicarakan aib orang lain, dan satu penyakit yang tidak akan diampuni oleh Allah yaitu Syirik. Oleh karena itu mari kita berlindung kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dari penyakit itu semua.
4.   Menundukkan hawa nafsu
Apabila kita mampu menahan dan menundukkan hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan dan tanda adanya nilai takwa dalam pribadi kita serta di akhirat mendapat balasan Surga. Seperti firman Allah yang artinya:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 40-41)
5.   Mewaspadai tipu daya syaithan
Para hadirin yang berbahagia.
Seperti kita ketahui bersama bahwasanya syaithan menghalangi orang-orang mu’min dengan beberapa penghalang, yang pertama adalah kufur, jikalau seseorang selamat dari kekufuran, maka syaithan menggunakan caranya yang kedua yaitu berupa bid’ah, jika selamat pula maka ia menggunakan cara yang ketiga yaitu dengan dosa-dosa besar, jika masih tak berhasil dengan cara ini ia menggoda dengan perbuatan mubah, sehingga manusia menyibukkan dirinya dalam perkara ini, jika tidak mampu juga maka syaithan akan menyerahkan bala tentaranya untuk menimbulkan berbagai macam gangguan dan cobaan silih berganti.
Saudara-saudara yang berbahagia, maka tidak diragukan lagi, bahwa mengetahui rintangan-rintangan yang dibuat syaithan dan mengetahui tempat-tempat masuknya ke hati anak Adam dari bujuk rayu syaithan merupakan poin tersendiri bagi kita.
Para hadirin yang berbahagia, demikianlah apa-apa yang bisa saya sampaikan, marilah kita berharap kepada Allah semoga kita termasuk orang-orang yang Muttaqin yang selalu istiqomah pada jalanNya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
.
Read More --►